Home » » Mengenali Potensi Peserta Didik Baru

Mengenali Potensi Peserta Didik Baru

Peserta didik baru (Dok. Ngudiyanto)

Tahun pelajaran baru identik dengan peserta didik atau siswa baru. Kalau bicara siswa baru tentu kita harus belajar mengenali lagi potensi yang ada di dalam diri siswa baru tersebut. Baik dari perilaku, perkataan dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena seorang guru harus mengenali potensi siswa baru pada tahun pelajaran baru.

Identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik adalah salah satu upaya para guru yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan peserta didik, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti; peserta didik, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/ pembelajaran tertentu yang akan diikuti peserta didik.

Identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik bertujuan : a. Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu. b. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka. c. Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Berdasarkan Teori Gardner, sebuah pendekatan yang relatif baru yaitu teori Kecerdasan ganda (Multiple Intelligences), yang menyatakan bahwa sejak lahir manusia memiliki jendela kecerdasan yang banyak. Ada delapan jendela kecerdasan menurut Gardner pada setiap individu yang lahir, dan kesemuanya itu berpotensi untuk dikembangkan. Namun dalam perkembangan dan pertumbuhannya individu hanya mampu paling banyak empat macam saja dari ke delapan jenis kecerdasan yang dimilikinya. Kecerdasan tersebut yaitu : 
a. Kecerdasan Verbal/bahasa (Verbal/linguistic intelligence) 
b. Kecerdasan Logika/Matematika (logical/mathematical intelligence) 
c. Kecerdasan visual/ruang (visual/ spatial intelligence) 
d. Kecerdasan tubuh/gerak tubuh (body/kinestetic intelligence) 
e. Kecerdasan musikal/ritmik (musical/rhytmic intelligance) 
f. Kecerdasan interpersonal (interpesonal inteligance) 
g. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). 
h. Kecerdasan Naturalis (naturalistic Intelligence)

Dengan teori ini maka terjadi pergeseran paradigma psikologis hierarki menjadi pandangan psikologis diametral. Tidak ada individu yang cerdas, bodoh, sedang, genius, dan sebagainya, yang ada hanyalah kecerdasan yang berbeda.

Untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test) untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik tersebut. Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada peserta didik, guru yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut. Teknik untuk mengidentifikasi karakteristik siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, interview, observasi dan tes.

Latar belakang siswa juga perlu dipertimbangkan dalam mempersiapkan materi yang akan disajikan, di antaranya yaitu faktor akademis dan faktor sosial : 
a. Faktor akademis. Faktor-faktor yang perlu menjadi kajian guru adalah jumlah siswa yang dihadapi di dalam kelas, rasio guru dan siswa menentukan kesuksesan belajar. Di samping itu, indeks prestasi, tingkat inteligensi siswa juga tidak kalah penting. 
b. Faktor sosial. Usia kematangan (maturity) menentukan kesanggupan untuk mengikuti sebuah pembelajaran. Demikian juga hubungan kedekatan sesama siswa dan keadaan ekonomi siswa itu sendiri mempengaruhi pribadi siswa tersebut.

Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa dalam pengembangan program pembelajaran sangat perlu dilakukan, yaitu untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini bisa berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, minat dan lain-lain.

Hasil kegiatan mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa akan merupakan salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk siswa. Dengan melaksanakan kegiatan tersebut, masalah heterogen siswa dalam kelas dapat diatasi, setidak-tidaknya banyak dikurangi.

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui kemampuan awal siswa yaitu teknik tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal (pre-requisite dan pretes). Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal, Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal (pre test) adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti.

Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “ untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi ”. Hasil pre tes juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang telah dimiliki dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran. Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.

Contoh angket sederhana untuk mengetahui kemampuan awal siswa : 
Seberapa luas pengetahuanmu gempa bumi?: 
1. Saya belum pernah mendengar istilah itu. 
2. Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang gempa bumi 
3. Saya hanya tahu sedikit tentang gempa bumi. 
4. Saya belum tahu pengertian gempa secara luas Atau dengan menggunakan peta konsep, ternyata peta konsep juga dapat dijadikan alat untuk mengecek pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Caranya, tuliskan sebuah kata kunci utama tentang topik yang akan dipelajari hari itu di tengah-tengah papan tulis. Misalnya "Gempa".

Berikutnya guru meminta siswa menyebutkan atau menuliskan konsep-konsep yang relevan (berhubungan) dengan konsep gempa dan membuat hubungan antara konsep gempa dengan konsep yang disebut (ditulisnya) tadi. Seberapa pengetahuan awal yang dimiliki siswa dapat terlihat sewaktu mereka bersama-sama membuat peta konsep di papan tulis.

Langkah-Langkah dan Hasil Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa Berikut ini latihan dalam mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa. Latihan ini akan memakan waktu yang cukup panjang, karena harus mengumpulkan data dari lapangan. Ikutilah latihan ini dengan tekun. 

1. Kumpulkanlah data perilaku awal siswa dari orang-orang yang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran dengan cara: 
a. Tulislah kembali daftar perilaku khusus yang telah berhasil Anda buat dalam kegiatan analisis intruksional; 
b. Atas dasar perilaku khusus tersebut, buatlah skala penilaian sebagai berikut: 
No. Perilaku Khusus Baik Buruk
Keterangan: 
Kolom 1 : Nomor urut 
Kolom 2 : Perilaku khusus yang telah dihasilkan dalam analisis instruksional 
Kolom 3 dan 4 : Skala penilaian. 
c. Berilah pengantar cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak secukupnya; 
d. Berikan skala penilaian tersebut kepada orang-orang yang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran seperti atasan dan guru mereka. Jumlah penilai ter-gantung kepada besarnya populasi sasaran. Untuk siswa dalam jumlah kecil, sekitar 10–20 responden sudah cukup memadai. Untuk siswa dalam jumlah besar dan ruang lingkup nasional misalnya, diperlukan sekitar 30 sampai 50 responden; Kumpulkan hasil isian tersebut.

2. Kumpulkanlah data perilaku awal siswa dari sampel siswa. Di samping data dari orang-orang yang dekat dengan sasaran, diperlukan pula data dari sampel sasaran itu sendiri dengan bentuk self-report. Ikutilah langkah-langkah sebagai berikut: 
a. Tulislah kembali perilaku khusus yang telah berhasil Anda buat dalam analisis intruksional; 
b. Atas dasar perilaku khusus tersebut, buatlah skala penilaian dalam bentuk skala Likert (sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju); 
c. Berilah pengantar cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak secukupnya; 
d. Berikan skala penilaian tersebut kepada sejumlah orang yang dapat mewakili populasi sasaran. Jumlahnya juga tergantung dari besarnya populasi sasaran. Yang paling penting diperhatikan adalah orang-orang tersebut memang memiliki ciri-ciri seperti populasi sasaran, sehingga dapat dipandang sebagai sampel yang representatif; 
e. Kumpulkan hasil isian tersebut.

3. Kumpulkan data perilaku awal siswa dengan menggunakan observasi dan tes. Dibandingkan dengan dua cara mengumpulkan data perilaku awal siswa yang telah dikemukakan sebelumnya, observasi dan tes adalah cara yang lebih mantap, karena dapat mengumpulkan data yang lebih tegas. Observasi dilakukan untuk menilai kemampuan yang bersifat pelaksanaan kegiatan atau pekerjaan atau keterampilan. Skala penilaian seperti butir 1 di atas dapat digunakan dalam observasi tersebut. Bedanya adalah: skala penilaian yang digunakan dalam observasi diisi oleh orang yang mengobservasi (mengamati) kegiatan yang sedang dilakukan siswa. Sedangkan dalam butir 1 di atas diisi oleh atasan atau guru atas dasar pendapat mereka tanpa mengamati langsung kegiatan siswa yang sedang dinilai. Tes digunakan untuk menilai kemampuan yang bersifat kognitif. Bila Anda dapat menggunakan observasi dan tes, cara dalam butir 1 dan 2 di atas tidak diperlukan lagi.

4. Kumpulkanlah data karakteristik awal siswa dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Buatlah daftar pertanyaan atau kuisioner tentang karakteristik siswa seperti: 
1) Tempat kelahiran dan tempat dibesarkan; 
2) Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi keahliannya atau dicita-citakan untuk menjadi bidang keahliannya; 
3) Kesenangan (hobi); 
4) Bahasa sehari-hari dan bahasa asing yang dikuasai; 
5) Alat-alat audio-visual yang dimiliki di rumah atau biasa digunakan sehari-hari; 
6) dan lain-lain yang dianggap penting bagi pengembangan desain instruksional. 
b. Berikanlah kuesioner tersebut kepada sejumlah sampel yang dapat mewakili populasi sasaran; 
c. Kumpulkan hasilnya.

5. Analisislah hasil pengumpulan data butir 1 dan 2 atau butir 3 saja untuk menentukan perilaku awal yang telah dikuasai populasi sasaran. Kelompokkan perilaku yang mendapat nilai cukup dan di atasnya. Pisahkan dari perilaku yang masih sedang, kurang atau buruk.

6. Buatlah garis batas antara kedua kelompok perilaku tersebut pada bagan hasil analisis instruksional untuk menunjukkan dua hal sebagai berikut: 
a. Perilaku-perilaku yang ada di bawah garis batas adalah perilaku yang telah dikuasai oleh populasi sasaran sampai tingkat cukup dan baik. Perilaku-perilaku ini tidak akan diajarkan kembali kepada siswa; 
b. Perilaku-perilaku yang ada di atas garis batas adalah perilaku yang belum dikuasai oleh populasi sasaran atau baru dikuasai sampai tingkat sedang, kurang, dan buruk. Perilaku-perilaku tersebut akan diajarkan kepada siswa.

7. Susunlah urutan perilaku yang ada di atas garis batas untuk dijadikan pedoman dalam menentukan urutan materi pelajaran.

8. Tafsirkanlah data tentang karakteristik siswa untuk menggambarkan hal sebagai berikut: a. Lingkungan budaya; b. Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi keahlian; c. Kesenangan (hobi); d. Bahasa yang dikuasai; e. Alat audio visual yang dimiliki atau yang biasa digunakan sehari-hari; f. dan lain-lain.

Menurut penulis sendiri, setidaknya ada enam manfaat dari mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik, yaitu: 
1. Untuk memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu. 
2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka. 
3. Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik. 
4. Mengetahui tentang luas dan jenis pengalaman belajar siswa, hal ini berpengaruh terhadap daya serap siswa terhadap materi baru yang akan disampaikan. 
5. Mengetahui latar belakang siswa dan keluarga siswa. Meliputi tingkat pendidikan orang tua, sosial ekonomi, emosional dan mental sehingga guru dapat menyajikan bahan serta metode belajar yang lebih variatif, serasi, efektif dan efisien. 
6. Mengetahui tingkat pertumbuhan, perkembangan, aspirasi dan kebutuhan siswa serta mengetahui tingkat penguasaan yang telah diperoleh siswa sebelum mengikuti proses instruksional. Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi bapak dan ibu guru yang akan mendapatkan siswa baru di sekolahnya masing-masing.


Ditulis oleh Pak Sarwanto Ketua Edukasi IPS 

0 Comments:

Post a Comment