Home » , » Mengenal Kartono Kakak Kandung RA. Kartini

Mengenal Kartono Kakak Kandung RA. Kartini

Raden Mas Panji Sosrokartono (Dok. Merdeka)

Setiap tanggal 21 April di Indonesia selalu diperingati Hari Kartini. Raden Ajeng Kartini dianggap berjasa untuk kaum wanita di Indonesia, karena memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan atau lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita. 

Tapi adakah diantara kita yang sudah mengenal Kartono?. Dia adalah kakak kandung Raden Ajeng Kartini. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Tidak banyak yang tahu tentang kisahnya, termasuk prestasi - prestasi gemilang semasa hidupnya.

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Pelemkerep, Mayong, pada tanggal 10 April 1877. Dua tahun lebih tua dari R.A. Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879. Sebagai anak-anak priyayi, Kartono memiliki peluang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 

Dia mengenyam pendidikannya di Sekolah Europeesche Lagere di Jepara, kemudian Sekolah Burger Hogere di Semarang dan akhirnya melanjutkan ke Sekolah Teknik Tinggi di Delft, Belanda. Namun karena tidak cocok dengan jurusan tersebut, Kartono akhirnya pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden. Dia merupakan mahasiswa Indonesia pertama di negeri Belanda.

Kemudian dia bekerja sebagai wartawan di sebuah koran Amerika bernama The New York Herald Tribune di kota Wina, Austria. Karena pekerjaan ini dia diberi pangkat Walikota oleh panglima perang Amerika pada saat itu. 

Selepas itu, Kartono mendapatkan pekerjaan yang cukup ekslusif, yakni sebagai penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa (Sekarang PBB) dari tahun 1919 hingga 1921. Selain itu Kartono merupakan poliglot, yaitu seseorang yang fasih berbicara dalam berbagai macam bahasa. Kemampuannya berbicara dalam 26 bahasa, 10 bahasa diantaranya adalah bahasa yang tidak umum digunakan orang banyak pada saat itu, misalnya Bahasa Latin dan Bahasa Basken yakni salah satu suku bangsa di Spanyol. 

Kejeniusan Kartono selama mengenyam pendidikan di Belanda, dia menerima banyak undangan sebagai pembicara di berbagai acara. Ketika Perang Dunia I berakhir, Kartono dipilih oleh sekutu sebagai juru bahasa karena ia satu-satunya orang yang menguasai berbagai bahasa di Eropa dan bukan bangsa Eropa. Dia kemudian ditunjuk menjadi atase budaya di Kedutaan Prancis yang berkedudukan di Den Haag, Belanda. 

Tidak hanya dikenal sebagai sosok yang cerdas dalam berbahasa, Kartono juga dijuluki sebagai dokter air putih oleh masyarakat Belanda. Karena kemampuannya untuk menyembuhkan orang sakit menggunakan media air putih. Dia juga merupakan publikasi pertama di Indonesia yang dapat memotret gunung dari udara.  

Kehebatannya di luar negeri tidak membuatnya lupa akan tanah air. Dia kembali ke Indonesia dan memulai pekerjaannya di negeri ini. Dia pernah bertemu dan menjalin kerja sama dengan beberapa tokoh nasional seperti Ki Hadjar Dewantoro dan RM Suryodiputro. 

Dia juga sering memberikan kursus bahasa tidak hanya untuk orang Indonesia tetapi juga untuk orang-orang asing. Dia menjadi kepala sekolah menengah dan menjadi bagian dari Sekolah Taman Siswa. Namun pada tahun 1927 dia keluar dari Taman Siswa. 

Selang tiga tahun kemudian Kartono dia membuat rumah pemulihan dengan nama Dar-Oes-Salam yang artinya tempat yang damai. Kemampuannya menyembuhkan penyakit dengan medium air atau udara menjadi fenomena tersendiri pada saat itu. Karena kecil, Kartono memang dikenal sebagai sosok yang memiliki bakat supranatural dan kemampuan spiritual yang tinggi. Kejeniusan menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh besar pada saat itu. 

Sang adik yakni R.A Kartini pernah dalam surat-suratnya selalu menulis tentang Sosrokartono sebagai satu-satunya orang yang memfasilitasi dan simpati dalam perjuangannya. Selain itu, beberapa tokoh pergerakan termasuk Soekarno pernah mengunjungi Sosrokartono di Dar-Oes-Salam yang terletak di Bandung. Hingga akhir hayatnya, Sosrokartono dihormati oleh orang banyak. 

Di masa awal pendudukan Jepang, kesehatan Sosrokartono terus menurun. Separuh badannya lumpuh hingga akhirnya dia wafat pada tanggal 8 Februari 1952 di Bandung dan dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah. Sepanjang hidupnya dia dikenal sebagai penulis, wartawan, dokter, cendekiawan, ahli kebatinan dan penasihat spiritual bagi banyak orang. Itulah perjalanan singkat Kartono kakak kandung Raden Ajeng Kartini seperti dikutip dari historia.co.id. 

0 Comments:

Post a Comment